KISAHASALUSUL.BLOGSPOT.COM

20 Peninggalan Kerajaan Kediri dalam Bentuk Candi, Prasasti, Kitab, dan Arca

Kerajaan Kediri adalah salah satu kerajaan Hindu yang terletak di Jawa Timur. Kerajaan ini memiliki nama lain, yaitu Kadiri atau Panjalu. Sejak berdiri pada tahun 1042 dan runtuh pada tahun 1222, kerajaan yang berpusat di kota Daha ini meninggalkan beberapa benda bersejarah, baik berupa candi, prasasti, arca, hingga kitab-kitab sastra. Apa saja peninggalan Kerajaan Kediri tersebut? Bagaimana sejarah penemuannya? Untuk tahu jawabannya, silakan simak pemaparan berikut!

Candi Peninggalan Kerajaan Kediri

Kerajaan Kediri telah meninggalkan beberapa bangunan candi. Candi-candi tersebut memiliki corak khas budaya Hindu. Berikut ini adalah beberapa candi peninggalan Kerajaan Kediri tersebut:

Peninggalan Kerajaan Kediri

1. Candi Penataran

Salah satu candi peninggalan sejarah kerajaan Kediri yang hingga saat ini dapat kita temukan adalah Penataran. Candi ini letaknya berada di lereng Gunung Kelud bagian Barat Daya, tepatnya di utara Kota Blitar. Candi penataran adalah candi termegah di Jawa Timur. Dari prasasti yang ditemukan di lokasi penggalian candi, diketahui bahwa candi ini dibangun saat masa kepemerintahan Raja Srengga hingga kepemerintahan Raja Wikramawardhana atau sekitar abad ke 12 hingga 14 Masehi.

Candi Peninggalan Kerajaan Kediri Candi Penataran, Candi Gurah, dan Candi Tondowongso

2. Candi Tondowongso

Candi peninggalan Kerajaan Kediri selanjutnya adalah Candi Tondowongso. Candi ditemukan di Desa Gayam, Kec. Gurah, Kediri-Jawa Timur pada tahun 2007. Berdasarkan gaya dan bentuk arca yang ditemukan di sekitar candi, diketahui bahwa candi ini dibangun pada abad ke 9, tepat pada masa awal perpindahan pusat politik dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Kendati dianggap sebagai penemuan sejarah terbesar di abad modern, kondisi candi Tondowongso dan kompleks di sekitarnya hingga kini masih memprihatinkan dan belum mendapat perhatian dari pemerintah.

3. Candi Gurah

Selanjutnya adalah Candi Gurah. Candi ini ditemukan di Kec. Gurah, Kediri Jawa Timur.
Candi peninggalan Kediri selanjutnya ditemukan di Kecamatan Kediri, Jawa Timur pada tahun 1957. Letak candi Gurah berada persis 2 km dari situs candi Tondowongso. Dari pondasinya, diketahui bahwa candi ini berukuran 9 meter x 9 meter.

Candi Peninggalan Kerajaan Kediri Candi Mirigambar

4. Candi Mirigambar

Candi Mirigambar adalah candi peninggalan Kerajaan Kediri yang ditemukan di lapangan desa Mirigambar, Kec. Sumbergempol, Tulungagung – Jawa Timur. Candi ini diperkirakan dibangun pada tahun 1214 – 1310 Saka. Strukturnya terbuat dari batu bata merah, seperti halnya kebanyakan candi-candi yang ada di Jawa Timur. Seorang petinggi desa Mirigambar pada 1965 melindungi candi ini dari aksi ikonoklastik sehingga hingga kini candi ini masih dapat kita temukan.
Aksi Ikonklastik adalah aksi penghancuran ikon-ikon budaya yang dianggap sebagai berhala.

5. Candi Tuban

Berbeda dengan nasib Candi Mirigambar, candi Tuban kini telah luluh lantah dan hanya tersisa pondasinya saja. Candi yang berjarak 500 meter dari letak Candi Mirigambar ini saat ini telah ditimbun kembali oleh tanah karena sudah tidak dimungkinkan lagi untuk dibangun.

Prasasti Peninggalan Kerajaan Kediri

Selain candi, kerajaan Kediri juga meninggalkan beberapa prasasti sebagai catatan dan jejak sejarah atau peringatan terhadap suatu kejadian. Beberapa prasasti peninggalan Kerajaan Kediri tersebut antara lain:

Prasasti Peninggalan Kerajaan Kediri Prasasti Kamulan, Prasasti Galunggung, Prasasti Jaring, Prasasti Panumbangan, dan Prasasti Talan

1. Prasasti Kamulan

Prasasti Kamulan ditemukan di Desa Kamulan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Prasasti ini dibuat pada tahun 1116 Saka (1194 M) tepat pada masa kepemimpinan Raja Kertajaya. Isi prasasti ini adalah keterangan berdirinya Kabupaten Trenggalek, yakni pada Rabu Kliwon, tanggal 31 Agustus 1194.

2. Prasasti Galunggung

Prasasti Galunggung ditemukan di Rejotangan, Tulung Agung. Prasasti yang memiliki dimensi 160x80x75 cm ini bertuliskan huruf Jawa Kuno dengan total 20 baris, kendati begitu aksara yang terpahat dalam prasasti ini sudah sangat sulit dibaca. Hanya bagian tahunnya saja yang masih dapat diketahui, yaitu bertuliskan tahun 1123 Saka.

3. Prasasti Jaring

Prasasti Jaring adalah prasasti yang dibuat pada tanggal 19 November 1181. Isi dari prasasti ini adalah keterangan tentang pengabulan keinginan penduduk dukuh Jaring melalui senapatinya, Sarwajala. Keinginan tersebut berupa suatu harapan yang belum diwujudkan raja sebelumnya. Dalam prasasti Jaring, diketahui bahwa para pejabat kediri memilki gelar atau sebutan menggunakan nama hewan, seperti Lembu Agra, Menjangan Puguh, dan Macan Kuning.

4. Prasasti Panumbangan

Prasasti Panumbang adalah prasasti peninggalan kerajaan Kediri yang dibuat oleh 2 Agustus 1120. Prasasti ini dikeluarkan oleh Maharaja Bameswara. Isinya adalah berupa penetapan desa Panumbang menjadi sima swatantra (desa bebas pajak).

5. Prasasti Talan

Prasasti Talan ditemukan di Desa Gurit, Blitar – Jawa Timur. Prasasti yang dibuat pada tahun
1058 Saka (1136 Masehi) ini, berisi tentang penetapan masuknya Desa Talan ke dalam wilayah Panumbang yang bebas pajak. Prasasti ini dilengkapi dengan pahatan Garudhamukalanca, pahatan berbentuk tubuh manusia bersayap dengan kepala Garuda.

Selain prasasti-prasasti tersebut, kerajaan Kediri juga meninggalkan beberapa prasasti lainnya. Prasasti peninggalan Kerajaan Kediri tersebut di antaranya yaitu:
  1. Prasasti Sirah Keting berisi tentang pemberian tanah dari Raja Jayawarsa pada rakyat desa Sirah Keting karena jasa-jasanya terhadap kerajaan Kediri.
  2. Prasasti Kertosono berisi tentang masalah keagamaan. Prasasti ini berasal dari masa kepemerintahan Raja Kameshwara.
  3. Prasasti Ngantang berisi tentang pemberian tanah bebas pajak oleh Jayabaya pada Desa Ngantang karena jasa-jasa rakyat Desa yang telah mengabdi pada Kerajaan Kediri.
  4. Prasasti Padelegan isinya mengenang bakti penduduk Desa Padelegan pada Raja Kameshwara.
  5. Prasasti Ceker berisi tentang anugerah dari raja pada penduduk Desa Ceker yang telah mengabdi demi kemajuan Kediri.

Kitab Peninggalan Kerajaan Kediri

Kediri juga memiliki banyak sastrawan handal. Para sastrawan ini telah membuat beberapa kitab sastra, diantaranya adalah kitab Kakawin Bharatayudha, Kitab Kresnayana, Kitab Sumarasantaka, Gatotkacasraya, dan kitab Smaradhana.

1. Kitab Kakawin Bharatayudha

Kitab Kakawin Bharatayudha dikarang oleh Empu Sedah dan Empu Panuluh. Isinya menceritakan kisah perjuangan raja Jenggala, Jayabaya yang berhasil menaklukkan Panjalu. Kisah perjuangan raja Jayabaya ini dianalogikan dengan kisah peperangan antara Kurawa dan Pandawa dalam kisah Mahabrata.

2. Kitab Kresnayana

Kitab Peninggalan Kerajaan Kediri
Kitab Kresnayana dikarang oleh Empu Triguna. Isinya menceritakan riwayat hidup Kresna, seorang anak yang memiliki kekuatan sangat luar biasa dan namun suka menolong orang lain. Kresna sangat disukai orang-orang diceritakan secara runut hingga ia menikah dengan Dewi Rukmin.

3. Kitab Sumarasantaka

Kitab Sumarasantaka dikarang oleh Empu Monaguna. Isinya menceritakan kisah kutukan Harini, seorang bidadari khayangan yang telah melakukan kesalahan. Harini dikutuk menjadi manusia. Ia tinggal di bumi untuk beberapa lama hingga masa kutukannya selesai.

4. Kitab Gatotkacasraya

Ktab Gatotkacasraya dikarang oleh Empu Panuluh. Isinya menceritakan kisah kepahlawanan Gatotkaca yang berhasil mempersatukan putra Arjuna, yakni Abimayu dengan Siti Sundhari.

5. Kitab Smaradhana

Kitab smaradhana dikarang oleh Empu Dharmaja. Isinya menceritakan kisah Dewa Kama dan Dewi Ratih, sepasang suami istri yang hilang secara misterius karena terkena api yang keluar dari mata ketiga Dewa Syiwa.

Nah, demikianlah beberapa peninggalan kerajaan Kediri baik dalam bentuk Candi, Prasasti, Kitab maupun Arca. Semoga daftar peninggalan dari mahsyurnya kerajaan Kediri di masa silam ini dapat membantu menambah wawasan sejarah Anda. Daftar ini akan terus diupdate seiring dengan ditemukannya informasi terbaru.

0 Response to "20 Peninggalan Kerajaan Kediri dalam Bentuk Candi, Prasasti, Kitab, dan Arca"